Rupiah Tembus Rp17.105 per Dolar AS, Airlangga Singgung Nasib Mata Uang Dunia

Visual Media Nusantara, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan ditutup di level Rp17.105 per dolar AS pada perdagangan Selasa (07/04/2026). Kondisi tersebut memicu perhatian pasar karena menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Menanggapi kondisi itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah, tetapi juga dialami berbagai mata uang negara lain di dunia.

“Itu bukan hanya rupiah, berbagai currency lain kan demikian,” kata Airlangga saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. 

Berdasarkan data perdagangan, rupiah melemah sekitar 70 poin atau 0,41 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.035 per dolar AS. 

Pelemahan ini mencerminkan tekanan yang sedang dialami mata uang negara berkembang di tengah dinamika ekonomi global.

Sejumlah analis menilai pergerakan rupiah tidak terlepas dari faktor eksternal seperti kondisi geopolitik dunia serta kebijakan moneter global yang memengaruhi arus modal internasional.

Beberapa faktor global disebut turut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan mata uang negara lain.

Di antaranya adalah ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga energi, hingga kebijakan suku bunga di Amerika Serikat yang mendorong penguatan dolar AS.

Bahkan, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS dalam periode yang sama. 

Tekanan global tersebut membuat investor cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia (BI) menyatakan siap melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Bank sentral diketahui melakukan intervensi di pasar valuta asing guna meredam volatilitas rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. 

Selain intervensi di pasar spot, BI juga memanfaatkan instrumen pasar keuangan lainnya untuk memastikan likuiditas tetap terjaga.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat membawa sejumlah dampak terhadap perekonomian nasional.

Beberapa sektor yang berpotensi terdampak antara lain:
- kenaikan harga barang impor
- peningkatan biaya bahan baku industri
- tekanan terhadap inflasi domestik

Namun di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global.

Pemerintah menegaskan akan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah dan berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Langkah stabilisasi nilai tukar dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan aktivitas ekonomi nasional tetap berjalan dengan baik.

Meski menghadapi tekanan global, pemerintah berharap fundamental ekonomi Indonesia tetap mampu menopang stabilitas rupiah dalam jangka menengah hingga panjang.
(WAS) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama