RI Kantongi 150 Juta Barel Minyak Rusia, Hashim Beberkan Skema Harga Khusus

Visual Media Nusantara, Jakarta
Indonesia disebut telah mengamankan komitmen pasokan minyak mentah hingga 150 juta barel dari Rusia, di tengah gejolak pasar energi global yang semakin tidak menentu.

Kesepakatan ini diungkap Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, sebagai hasil pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.

Awalnya, Rusia menyetujui pengiriman 100 juta barel minyak mentah ke Indonesia dengan skema harga khusus. Jika kebutuhan meningkat, pasokan tambahan hingga 50 juta barel juga telah disiapkan. 

“Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia, 150 juta barel bisa kita simpan untuk menghadapi gejolak ekonomi,” ujar Hashim.

Kesepakatan ini dinilai sebagai langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional, terutama di tengah tekanan global akibat konflik geopolitik yang memengaruhi pasokan minyak dunia.

Selain itu, skema harga khusus yang ditawarkan Rusia menjadi poin penting, meski detail harga tidak diungkap secara rinci ke publik. Hal ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan pasokan energi dengan biaya yang lebih kompetitif dibanding pasar internasional.

Di sisi lain, implementasi kerja sama ini masih dalam tahap penjajakan teknis. PT Pertamina (Persero) disebut masih berkoordinasi dengan pemerintah terkait mekanisme impor, baik melalui skema government to government (G2G) maupun business to business (B2B). 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga memberi sinyal bahwa pengiriman minyak mentah dari Rusia berpotensi mulai direalisasikan dalam waktu dekat, meski belum merinci volume pasti yang akan masuk pada tahap awal. 

Langkah diversifikasi sumber energi ini menjadi penting mengingat selama ini Indonesia masih bergantung pada beberapa negara pemasok utama. Dengan masuknya Rusia sebagai alternatif, pemerintah berharap stabilitas pasokan energi dalam negeri dapat lebih terjaga.

Kerja sama ini sekaligus menunjukkan arah baru strategi energi Indonesia, yang tidak hanya bergantung pada pasar tradisional, tetapi mulai membuka opsi baru di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Penulis: Ariana

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama