Visual Media Nusantara, Jakarta – Temuan patahan raksasa di bawah Pulau Sulawesi kembali memicu kekhawatiran akan potensi tsunami besar. Struktur geologi ini disebut mampu menyebabkan deformasi dasar laut secara signifikan yang merupakan faktor kunci dalam pembentukan tsunami.
Penelitian terbaru yang dikutip CNBC Indonesia mengungkap adanya patahan dalam yang dapat menyebabkan dasar laut turun dan berubah bentuk secara drastis.
Fenomena ini penting karena tsunami besar tidak hanya dipicu oleh gempa yang kuat, tetapi juga oleh pergeseran vertikal di dasar laut. Dalam kasus ini, patahan tersebut disebut memberi penjelasan baru atas kejadian tsunami di Palu pada 2018 lalu.
Pada peristiwa Gempa dan tsunami Sulawesi 2018 lalu di Palu, lebih dari 4.000 orang meninggal. Gelombang Tsunami mencapai hingga 5–6 meter sehingga banyak korban tidak sempat menyelamatkan diri.
Yang mengejutkan ilmuwan saat itu adalah gempa tipe geser (strike-slip) biasanya tidak memicu tsunami besar namun kenyataannya terjadi. Temuan patahan baru ini memperkuat dugaan bahwa ada mekanisme bawah laut yang sebelumnya tidak terdeteksi.
Secara geologi, Pulau Sulawesi bukan wilayah biasa. Pulau ini berada di pertemuan Lempeng Australia, Lempeng Pasifik, Lempeng Filipina dan mikro-lempeng lokal.
Salah satu struktur utamanya adalah patahan Palu-Koro yang aktif dan memanjang hingga bawah laut. Artinya, potensi gempa plus tsunami bukan anomali, tapi bagian dari sistem yang aktif.
Pada bulan April 2026, terjadi gempa besar di wilayah Maluku–Sulawesi dengan kekuatan magnitudo sekitar 7,3–7,6 skala richter dan memicu tsunami kecil hingga 0,75 meter serta lebih dari 1.300 gempa susulan yang tercatat.
Walau dampaknya terbatas, kejadian ini menegaskan bahwa sistem tektonik di kawasan ini masih sangat aktif.
Di sini kita perlu berpikir jernih, bukan sekadar ikut panik. Yang valid dari kekhawatiran ini adalah ada bukti ilmiah patahan bawah laut yang merupakan wilayah memang aktif secara tektonik dan sejarah menunjukkan tsunami besar pernah terjadi.
Tapi ada juga yang perlu diluruskan, tidak semua patahan otomatis memicu tsunami besar karena tsunami butuh kombinasi faktor kedalaman, pergeseran vertikal dan lokasi. Istilah “tsunami raksasa” sering dibesar-besarkan secara media, dengan kata lain risiko itu nyata, tapi bukan berarti kejadian besar pasti segera terjadi.
Kalau kita tarik lebih dalam, masalah utamanya bukan hanya faktor geologi. Pelajaran dari 2018 menunjukkan bahwa sistem peringatan dini tidak optimal, sensor tsunami rusak dan masyarakat tidak siap. Padahal, waktu antara gempa dan tsunami bisa hanya berjarak 20 menit.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah peta risiko tsunami di Sulawesi sudah diperbarui setelah temuan ini dan Apakah sistem peringatan dini sudah benar-benar berfungsi atau Apakah masyarakat pesisir tahu harus lari ke mana?
Kalau jawabannya belum jelas, maka ancaman terbesar bukan patahan, tapi ketidaksiapan itu sendiri.
Temuan patahan raksasa di bawah Pulau Sulawesi bukan sekadar isu ilmiah, melainkan peringatan nyata. Namun yang perlu dipahami adalah alam tidak berubah tiba-tiba tapi pemahaman manusia bisa terlambat.
Jika tidak diikuti dengan mitigasi serius, maka sejarah seperti Palu bisa saja terulang. Bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak siap dalam menghadapinya.
(WAS)