Visual Media Nusantara, Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap sejumlah fitur utama dalam aplikasi “Reviu MBG”, sistem digital baru yang digunakan untuk memperkuat pengawasan kualitas makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara real-time di seluruh Indonesia.
Aplikasi tersebut dirancang sebagai instrumen evaluasi lapangan untuk memastikan makanan yang diterima para siswa dan penerima manfaat lainnya tetap memenuhi standar kualitas, keamanan pangan, dan gizi yang telah ditetapkan pemerintah.
BGN menjelaskan terdapat empat parameter utama dalam aplikasi Reviu MBG yang menjadi indikator penilaian kualitas makanan. Parameter pertama adalah ketepatan waktu distribusi makanan ke sekolah atau lokasi penerima manfaat.
Parameter kedua berkaitan dengan kesegaran makanan yang diterima penerima manfaat. Selanjutnya, parameter ketiga menilai rasa makanan, sedangkan parameter keempat mengevaluasi variasi menu agar makanan tidak monoton dan tetap menarik untuk dikonsumsi anak-anak.
Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya mengatakan aplikasi tersebut dibuat untuk meningkatkan kedisiplinan dan kesadaran seluruh pelaksana MBG terhadap kualitas makanan yang disalurkan setiap hari.
“Ada empat parameter dalam aplikasi yang kita luncurkan. Tujuannya meningkatkan awareness bahwa makanan yang didistribusikan harus tepat waktu, segar, baik, dan bervariasi,” ujar Sony Sonjaya.
Selain itu, aplikasi Reviu MBG juga dilengkapi fitur uji organoleptik yang digunakan untuk mengecek kualitas makanan melalui aroma, rasa, hingga tekstur makanan secara langsung sebelum dikonsumsi penerima manfaat.
Dalam implementasinya, setiap sekolah akan menunjuk guru atau penanggung jawab khusus sebagai person in charge (PIC) yang bertugas melakukan evaluasi harian melalui aplikasi tersebut.
Data hasil evaluasi kemudian masuk ke sistem pemantauan BGN untuk dijadikan dasar pengawasan dan perbaikan cepat apabila ditemukan persoalan di lapangan.
Peluncuran aplikasi ini muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kualitas makanan program MBG, terutama setelah muncul sejumlah kasus siswa mengalami gangguan kesehatan usai menerima makanan di beberapa daerah.
Karena itu, pengawasan kualitas makanan kini menjadi isu yang sama pentingnya dengan distribusi program itu sendiri.
Namun perlu dicatat, aplikasi digital bukan solusi tunggal. Sistem seperti ini hanya akan efektif jika laporan yang masuk benar-benar akurat dan ditindaklanjuti secara konsisten oleh pengelola program di lapangan.
Ada juga tantangan lain yang jarang dibahas, yakni kemungkinan bias penilaian dari pihak sekolah atau pelaksana jika pengawasan tidak dilakukan secara independen.
Di sisi lain, langkah BGN melibatkan guru dan penerima manfaat dalam proses evaluasi menunjukkan perubahan pendekatan pengawasan yang lebih partisipatif dan terbuka.
Dalam skala program sebesar MBG yang melibatkan ribuan dapur dan jutaan penerima manfaat, digitalisasi pengawasan memang menjadi kebutuhan agar potensi masalah dapat dideteksi lebih cepat sebelum berkembang menjadi gangguan serius.
BGN memastikan penguatan pengawasan terhadap kualitas makanan MBG akan terus dilakukan guna menjaga keamanan pangan, kualitas gizi, dan kepercayaan masyarakat terhadap program nasional tersebut.
Penulis: Ariana