Visual Media Nusantara, Jakarta — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terjadinya tsunami minor di sejumlah wilayah pesisir Indonesia setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Senin (8/6/2026) pukul 06.37 WIB.
Berdasarkan pemutakhiran data Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops) BNPB hingga pukul 08.22 WIB, anomali kenaikan muka air laut telah terdeteksi di beberapa stasiun pemantau pantai yang berada di kawasan Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Gelombang tsunami pertama tercatat di Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, pada pukul 07.20 WIB dengan ketinggian 0,09 meter. Selanjutnya, gelombang terdeteksi di Ulusiau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, setinggi 0,18 meter pada pukul 07.27 WIB.
Pada waktu yang hampir bersamaan, gelombang tsunami juga terpantau di Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, dengan ketinggian mencapai 0,19 meter.
Meski masih berada dalam kategori minor, BNPB menyatakan kondisi tersebut tetap memerlukan kewaspadaan karena aktivitas tektonik di sekitar pusat gempa masih berlangsung sangat aktif dan memicu serangkaian gempa susulan berkekuatan signifikan.
Data BNPB menunjukkan gempa susulan pertama berkekuatan Magnitudo 5,9 terjadi pada pukul 07.11 WIB di sekitar 241 kilometer barat laut Pulau Karatung. Selanjutnya gempa Magnitudo 5,7 terjadi pada pukul 07.18 WIB di lokasi 211 kilometer barat laut Pulau Karatung.
Aktivitas gempa susulan kembali meningkat pada pukul 07.55 WIB dengan kekuatan Magnitudo 6,0 yang berpusat sekitar 201 kilometer barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kemudian pada pukul 08.10 WIB, BMKG kembali mencatat gempa susulan berkekuatan Magnitudo 5,2 di sekitar 172 kilometer barat laut Tahuna.
Sementara itu, laporan dari Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BPBD di sejumlah daerah terdampak menyebutkan guncangan gempa dirasakan dengan intensitas berbeda-beda oleh masyarakat.
Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, gempa dirasakan cukup kuat selama tiga hingga empat detik dan sempat memicu kepanikan warga. Guncangan dengan durasi yang sama juga dirasakan masyarakat di Kabupaten Minahasa Utara.
Sedangkan warga Kota Manado merasakan getaran selama dua hingga tiga detik. Di Kabupaten Kepulauan Talaud, gempa dirasakan dengan intensitas lebih lemah selama dua hingga tiga detik.
Hingga saat ini, BPBD di wilayah terdampak masih melakukan pemantauan dan pendataan untuk memastikan ada atau tidaknya kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut.
BNPB mengimbau masyarakat yang berada di wilayah pesisir dengan status Siaga dan Waspada, termasuk di Sulawesi Utara, Maluku Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, hingga Kalimantan Timur, agar tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan petugas di lapangan.
Masyarakat juga diminta menjauhi kawasan pantai untuk sementara waktu, tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan atau retakan akibat gempa, serta terus memantau perkembangan informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan BPBD setempat.
BNPB menegaskan bahwa meskipun tinggi gelombang yang terdeteksi masih relatif kecil, potensi risiko tetap harus diantisipasi mengingat aktivitas gempa susulan bermagnitudo besar masih terus terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan.
Penulis: Putra