Visual Media Nusantara, JAKARTA — Penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri menjadi momen yang dinantikan umat Muslim di Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menetapkan awal bulan Syawal melalui sidang isbat.
Sidang isbat biasanya digelar pada tanggal 29 Ramadan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari ahli astronomi, perwakilan organisasi Islam, hingga instansi terkait.
Penentuan awal Syawal di Indonesia dilakukan dengan dua metode utama, yaitu:
- hisab (perhitungan astronomi)
- rukyat (pengamatan hilal secara langsung)
Hasil dari kedua metode tersebut kemudian dibahas dalam sidang isbat untuk menghasilkan keputusan resmi pemerintah.
“Penetapan awal bulan Hijriah dilakukan melalui kombinasi metode hisab dan rukyat agar hasilnya akurat dan dapat diterima semua pihak,” demikian penjelasan dari Kementerian Agama.
Pemantauan hilal dilakukan di berbagai titik di Indonesia. Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Syawal.
Namun jika tidak terlihat, maka bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.
Dalam beberapa tahun terakhir, perbedaan penentuan 1 Syawal antara pemerintah dan sebagian organisasi masyarakat Islam masih mungkin terjadi.
Hal ini biasanya disebabkan oleh:
- perbedaan metode penentuan
- perbedaan kriteria visibilitas hilal
Meski demikian, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan saling menghormati perbedaan.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk menunggu hasil resmi sidang isbat sebelum menetapkan Hari Raya Idulfitri.
“Kami mengajak masyarakat untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah agar pelaksanaan ibadah berjalan tertib dan seragam,” ujar perwakilan Kementerian Agama.
Penentuan 1 Syawal bukan sekadar soal tanggal, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kebersamaan umat dalam merayakan Idulfitri.
Hasil sidang isbat nantinya akan menjadi acuan resmi bagi masyarakat Indonesia dalam merayakan Hari Raya.
(WAS)
Tags
Nasional