Visual Media Nusantara, Jakarta — Direktur Utama Perum Bulog mengungkapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperkirakan mampu menyerap hingga 1 juta ton beras.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya pemerintah memperkuat rantai pasok pangan nasional sekaligus mendukung keberlanjutan program MBG yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Bulog, kebutuhan besar program MBG berpotensi menjadi pasar baru bagi sektor pertanian dan memperkuat penyerapan hasil produksi dalam negeri.
Selain beras, program MBG juga dinilai membuka peluang peningkatan permintaan terhadap berbagai komoditas pangan lokal lain seperti telur, ayam, sayuran, dan bahan pangan lainnya.
Secara ekonomi, skala program MBG memang berpotensi menciptakan efek berantai besar terhadap sektor pangan nasional.
Jika dikelola baik, program ini dapat menjadi instrumen stabilisasi permintaan bagi petani dan pelaku usaha pangan lokal.
Namun, asumsi bahwa peningkatan serapan otomatis menguntungkan seluruh petani juga perlu dibaca hati-hati.
Sebab, manfaat ekonomi program sangat bergantung pada pola distribusi pengadaan pangan.
Jika rantai pasok lebih banyak dikuasai pemasok besar atau distributor tertentu, maka keuntungan di tingkat petani kecil belum tentu signifikan.
Selain itu, peningkatan kebutuhan beras dalam jumlah besar juga dapat memunculkan tantangan baru terhadap stabilitas harga dan cadangan pangan apabila produksi tidak seimbang dengan permintaan.
Karena itu, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga sejauh mana program tersebut mampu menciptakan ekosistem pangan yang sehat dan berkeadilan.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah memang mulai mendorong dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mengutamakan penggunaan produk pangan lokal.
Langkah tersebut dinilai penting agar anggaran besar program MBG tidak hanya berputar di sektor distribusi, tetapi benar-benar menggerakkan ekonomi daerah dan petani lokal.
Di sisi lain, skala konsumsi pangan program MBG yang sangat besar juga menuntut tata kelola distribusi yang ketat, terutama terkait kualitas bahan pangan, stabilitas pasokan, dan pengawasan harga.
Program MBG kini tidak hanya dipandang sebagai program sosial, tetapi juga mulai menjadi instrumen ekonomi pangan yang dapat memengaruhi rantai produksi dan distribusi nasional.
Penulis: Ariana