Visual Media Nusantara, Brussel — Aliansi militer NATO bergerak cepat merespons keputusan Amerika Serikat (AS) yang menarik sekitar 5.000 personel militernya dari Jerman. Langkah Pentagon itu memicu kekhawatiran baru soal stabilitas keamanan kawasan Eropa di tengah memanasnya situasi geopolitik global.
Penarikan pasukan ini dinilai menjadi babak baru dalam hubungan transatlantik, terutama setelah muncul ketegangan politik antara Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait kebijakan luar negeri dan konflik global.
Pentagon memastikan proses penarikan akan dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu enam hingga 12 bulan ke depan. Dari total sekitar 36 ribu personel militer AS yang selama ini berada di Jerman, sekitar 5.000 akan dipulangkan, menyisakan lebih dari 30 ribu pasukan aktif di wilayah tersebut.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, dikabarkan langsung melakukan komunikasi intensif dengan Washington dan Berlin untuk memastikan tidak ada kekosongan strategi pertahanan di kawasan Eropa.
Langkah NATO ini dinilai penting mengingat Jerman selama ini menjadi salah satu pusat kekuatan militer AS di Eropa, sekaligus basis logistik utama untuk operasi keamanan regional.
Keputusan penarikan pasukan disebut tak lepas dari dinamika politik terbaru, termasuk kritik Kanselir Jerman terhadap strategi militer AS dalam konflik Timur Tengah yang memicu reaksi keras dari Presiden Trump.
Sejumlah negara anggota NATO kini mulai meningkatkan koordinasi pertahanan untuk mengantisipasi potensi perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan.
Pengamat hubungan internasional menilai langkah AS ini bisa memberi sinyal bahwa Washington ingin mendorong negara-negara Eropa mengambil tanggung jawab lebih besar dalam urusan pertahanan regional.
Namun, sebagian pihak khawatir pengurangan pasukan AS justru dapat dimanfaatkan oleh rival geopolitik Barat untuk memperbesar pengaruhnya di Eropa.
“Penarikan ini akan mengubah peta keamanan regional dan memaksa Eropa mempercepat penguatan pertahanan mandiri,” kata analis keamanan internasional dalam laporan CNN Indonesia.
Langkah ini menjadi titik penting dalam dinamika pertahanan global. Jika keseimbangan kekuatan berubah, bukan hanya Eropa yang terdampak, tetapi juga arah politik keamanan dunia dalam beberapa tahun ke depan.
Penulis: Ariana