Peternak Telur Parepare Tertekan, Harga Jual Turun Saat Pakan Ternak Naik

Visual Media Nusantara, Parepare — Peternak ayam petelur di Kota Parepare mengaku kesulitan bertahan di tengah turunnya harga jual telur dan meningkatnya harga pakan ternak dalam beberapa bulan terakhir.

Kondisi tersebut membuat sejumlah peternak harus mencari berbagai cara agar usaha mereka tetap berjalan, termasuk menjual telur dengan sistem pembayaran tempo demi menghindari penumpukan stok.

Salah seorang peternak ayam petelur di Parepare, H. Jamil, mengatakan penurunan harga telur saat ini tidak sebanding dengan biaya operasional yang terus meningkat, khususnya harga pakan.

“Setengah mati kita imbangi harga telur yang saat ini turun, karena harga pakan naik dan telur juga sulit dijual. Di gudang sudah banyak stok telur,” ujar H. Jamil, Jumat (15/5/2026).

Menurutnya, permintaan telur dari pasar maupun dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak lagi sebesar saat awal program berjalan.

Akibatnya, peternak harus memutar strategi agar telur tetap terserap pasar dan tidak menumpuk terlalu lama di gudang.

“Kami siasati dengan memberikan dulu barang kepada pelanggan, nanti dibayar belakangan. Itu supaya telur tidak bertumpuk di gudang. Kami juga minta bantuan keluarga untuk tambahan modal,” katanya.

Ia menjelaskan harga telur yang sebelumnya berada di kisaran Rp50 ribu hingga Rp52 ribu per rak kini turun menjadi sekitar Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per rak.

Di sisi lain, harga pakan ternak justru mengalami kenaikan cukup signifikan.

“Dulu harga pakan sekitar Rp360 ribu sampai Rp370 ribu per sak. Sekarang sudah sampai Rp400 ribu per sak,” ujarnya.

Kondisi tersebut dinilai semakin menekan margin keuntungan peternak, terutama peternakan skala kecil dan menengah yang bergantung pada perputaran penjualan harian.

H. Jamil menduga kenaikan harga pakan dipengaruhi distribusi pasokan yang tidak stabil. Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak distributor maupun instansi terkait mengenai penyebab kenaikan harga tersebut.

Secara ekonomi, situasi yang dialami peternak telur memperlihatkan adanya tekanan ganda: biaya produksi naik sementara daya serap pasar melemah.

Asumsi bahwa MBG otomatis akan menyerap produksi telur peternak secara stabil juga perlu diuji lebih hati-hati. Dalam praktiknya, kebutuhan dapur MBG sangat dipengaruhi kapasitas operasional, anggaran, distribusi, hingga jenis menu yang digunakan setiap dapur.

Jika kondisi harga telur rendah dan biaya produksi tinggi berlangsung dalam waktu lama, peternak kecil berpotensi mengalami penurunan kapasitas produksi bahkan kesulitan menjaga arus kas usaha.

Di sisi lain, penurunan populasi produksi telur akibat tekanan usaha juga bisa memicu kenaikan harga telur di masa mendatang ketika pasokan mulai berkurang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas sektor peternakan tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga keseimbangan antara biaya operasional, distribusi pasar, dan kepastian penyerapan hasil ternak.

Penulis: Ariana

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama