Visual Media Nusantara, Magetan — Badan Gizi Nasional (BGN) mengancam akan menutup dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak membeli telur langsung dari peternak lokal. Langkah tegas ini diambil menyusul anjloknya harga telur di tingkat peternak meskipun program MBG telah berjalan di berbagai daerah.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan pihaknya menemukan manfaat peningkatan konsumsi telur dalam program MBG justru lebih banyak dirasakan pedagang dan distributor dibanding peternak.
Karena itu, BGN menginstruksikan seluruh SPPG untuk membeli telur langsung dari peternak maupun koperasi peternak agar dampak ekonomi program benar-benar dirasakan pelaku usaha di tingkat bawah.
“Kalau tidak ada pergerakan harga, 71 SPPG saya tutup. Harus membeli telur dari peternak Magetan,” tegas Nanik saat meninjau kondisi harga pangan di Magetan, Jawa Timur.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai mengubah cara pandang terhadap MBG.
Jika selama ini program lebih banyak dipersepsikan sebagai program pemenuhan gizi bagi siswa dan kelompok rentan, kini pemerintah ingin memastikan MBG juga menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah.
Dalam logika BGN, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah porsi makanan yang dibagikan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat ekonomi yang diterima petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha lokal.
Namun kebijakan ini juga memunculkan pertanyaan penting. Apakah mewajibkan dapur MBG membeli langsung dari peternak akan otomatis memperbaiki harga telur?
Harga telur dipengaruhi banyak faktor, mulai dari produksi nasional, biaya pakan, distribusi, hingga daya serap pasar secara keseluruhan. Jika pasokan tetap berlimpah sementara permintaan tidak meningkat signifikan, tekanan harga masih bisa terjadi.
Meski demikian, langkah BGN dapat dipahami sebagai upaya memotong rantai distribusi yang terlalu panjang sehingga margin keuntungan tidak hanya dinikmati perantara.
Data di lapangan menunjukkan harga telur peternak di Magetan masih berkisar Rp19.000 hingga Rp21.000 per kilogram, jauh di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp22.800 per kilogram. Sementara peternak menilai harga ideal agar usaha tetap sehat berada pada kisaran Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram.
Kondisi tersebut juga sejalan dengan keluhan peternak di sejumlah daerah yang mengaku kesulitan bertahan akibat harga telur yang terus melemah sementara biaya produksi, terutama pakan ternak, masih relatif tinggi.
Di sisi lain, BGN sebelumnya telah mendorong peningkatan penggunaan telur dalam menu MBG hingga tiga kali dalam sepekan sebagai bagian dari upaya menyerap produksi peternak dan memperbaiki harga di tingkat produsen.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin menjadikan Program MBG bukan hanya sebagai program gizi nasional, tetapi juga sebagai alat penguatan ekonomi kerakyatan yang mampu menggerakkan sektor pertanian dan peternakan lokal.
Penulis: Ariana