Visual Media Nusantara, JAKARTA – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengungkap dugaan pemicu kasus keracunan makanan yang menimpa 72 siswa sekolah dasar di Duren Sawit, Jakarta Timur, setelah mereka mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Wamenkes, salah satu faktor yang diduga menyebabkan keracunan adalah proses memasak makanan yang terlalu lama sehingga kualitasnya menurun sebelum dikonsumsi para siswa.
Ia menjelaskan, tim dari Kementerian Kesehatan telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi untuk mengecek proses pengolahan makanan serta kondisi dapur penyedia menu MBG.
“Hasil pengecekan sementara menunjukkan proses memasak berlangsung terlalu lama dan makanan diduga tidak lagi dalam kondisi segar saat disajikan kepada siswa,” kata Benjamin.
Kasus ini terjadi setelah puluhan siswa menyantap makanan dari program MBG yang disediakan oleh dapur layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur.
Usai makan, sejumlah siswa dilaporkan mengalami berbagai gejala keracunan makanan, seperti mual, muntah, diare, demam, hingga nyeri perut.
Akibatnya, puluhan siswa harus mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat. Meski demikian, sebagian besar korban dilaporkan telah membaik setelah mendapatkan perawatan.
Pemerintah daerah menyebut menu MBG yang dikonsumsi siswa pada hari kejadian cukup beragam.
Menu tersebut antara lain terdiri dari spageti bolognese, bola daging, telur olahan, sayuran, serta buah stroberi sebagai pelengkap.
Namun dari hasil pemeriksaan awal, kualitas makanan tersebut diduga sudah tidak lagi segar ketika dikonsumsi para siswa.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas insiden yang terjadi dalam program MBG.
BGN juga memastikan akan menanggung seluruh biaya pengobatan korban serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur penyedia makanan.
Selain itu, operasional dapur MBG di lokasi terkait dihentikan sementara hingga waktu yang belum ditentukan, sambil menunggu hasil investigasi lebih lanjut mengenai standar keamanan pangan yang diterapkan.
Insiden keracunan makanan ini kembali menjadi perhatian publik terhadap pelaksanaan program MBG yang merupakan salah satu program nasional untuk meningkatkan gizi anak sekolah.
Sejumlah pihak mendorong agar pemerintah memperketat pengawasan proses pengolahan makanan, sanitasi dapur, serta distribusi makanan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Pengawasan terhadap kualitas bahan makanan dan standar kebersihan dapur juga dinilai menjadi aspek penting dalam memastikan keamanan konsumsi bagi para siswa.
Wamenkes menegaskan pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengolahan makanan dalam program MBG.
Langkah tersebut mencakup peningkatan standar operasional dapur, pengawasan proses memasak, serta sistem distribusi makanan ke sekolah.
Dengan pengawasan yang lebih ketat, pemerintah berharap program MBG dapat berjalan lebih aman dan memberikan manfaat maksimal bagi peningkatan gizi anak-anak di Indonesia.
“Kejadian ini menjadi pelajaran penting agar pengawasan terhadap kualitas makanan semakin diperketat,” ujar Benjamin.
(WAS)