Visual Media Nusantara - Persoalan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar yang belum terselesaikan hingga kini. Di berbagai kota besar, volume sampah terus meningkat setiap tahun, sementara kapasitas pengelolaannya masih terbatas.
Dalam upaya mencari solusi jangka panjang, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengambil langkah strategis dengan membentuk perusahaan baru bernama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera).
Perusahaan ini dirancang untuk mengelola sampah sekaligus mengubahnya menjadi energi listrik melalui teknologi waste-to-energy. Namun, di balik ambisi besar tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah ini solusi konkret, atau justru proyek besar dengan risiko tinggi?
Denera merupakan perusahaan baru yang dibentuk di bawah Danantara Investment Management (DIM). Fokus utamanya adalah mengembangkan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau yang dikenal sebagai waste-to-energy.
Dalam skema bisnisnya, Denera tidak hanya berperan sebagai investor, tetapi juga akan terlibat langsung dalam operasional proyek. Setiap proyek akan melibatkan kerja sama dengan mitra pengembang, di mana Denera diperkirakan memegang sekitar 30 persen saham.
Nilai investasi yang dibutuhkan untuk satu proyek tidak kecil, berkisar antara Rp2,5 triliun hingga Rp2,8 triliun. Ini menunjukkan bahwa proyek ini bukan sekadar eksperimen, melainkan program berskala besar dengan ambisi nasional.
Pembentukan Denera tidak lepas dari dua persoalan utama yang sedang dihadapi Indonesia, yaitu krisis sampah dan kebutuhan energi yang terus meningkat.
Di satu sisi, banyak tempat pembuangan akhir (TPA) di berbagai daerah sudah mengalami kelebihan kapasitas. Di sisi lain, kebutuhan listrik nasional terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi.
Melalui konsep waste-to-energy, pemerintah mencoba menggabungkan dua kebutuhan tersebut dalam satu solusi: mengurangi sampah sekaligus menghasilkan energi listrik.
Secara teori, pendekatan ini terdengar ideal. Sampah yang sebelumnya menjadi masalah bisa diubah menjadi sumber daya. Namun dalam praktiknya, implementasi konsep ini tidak selalu berjalan mulus.
Teknologi waste-to-energy pada dasarnya mengolah sampah melalui proses pembakaran atau metode lain untuk menghasilkan energi panas yang kemudian diubah menjadi listrik.
Proses ini membutuhkan:
- Infrastruktur berteknologi tinggi
- Sistem pemilahan sampah yang baik
- Pasokan sampah yang stabil
Tanpa tiga hal tersebut, efisiensi proyek bisa menurun drastis. Bahkan, dalam beberapa kasus di negara lain, proyek waste-to-energy gagal karena biaya operasional yang terlalu tinggi dibandingkan hasil energi yang dihasilkan.
Jika berjalan sesuai rencana, pembentukan Denera bisa memberikan sejumlah manfaat nyata seperti:
- Mengurangi volume sampah di kota-kota besar
- Menghasilkan energi alternatif yang lebih berkelanjutan
- Membuka lapangan kerja baru di sektor energi dan lingkungan
- Mengurangi ketergantungan pada TPA konvensional
Namun, ada sejumlah risiko yang tidak bisa diabaikan diantaranya:
- Investasi sangat besar dengan potensi pembengkakan biaya
- Ketergantungan pada teknologi impor
- Potensi penolakan masyarakat terhadap fasilitas pengolahan sampah
- Risiko polusi jika tidak dikelola dengan standar tinggi
Di banyak negara, proyek seperti ini sering menghadapi tantangan sosial, terutama terkait lokasi pembangunan fasilitas.
Di atas kertas, pembentukan Denera terlihat sebagai langkah strategis dan progresif. Namun, ada beberapa asumsi yang perlu diuji secara kritis.
Pertama, asumsi bahwa teknologi waste-to-energy dapat secara otomatis menyelesaikan masalah sampah. Faktanya, tanpa sistem pemilahan sampah yang baik dari hulu (rumah tangga), efisiensi teknologi ini bisa sangat rendah.
Kedua, asumsi bahwa proyek besar dengan investasi triliunan rupiah akan berjalan efektif. Dalam praktiknya, proyek infrastruktur besar sering menghadapi kendala seperti keterlambatan, pembengkakan biaya, hingga masalah tata kelola.
Ketiga, aspek koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Proyek ini tidak akan berhasil tanpa dukungan penuh dari pemerintah daerah, terutama dalam hal penyediaan lahan dan pengelolaan sampah.
Dengan kata lain, keberhasilan Denera bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang manajemen, transparansi, dan kesiapan ekosistem.
Pemerintah melalui Danantara menargetkan pengembangan proyek waste-to-energy di puluhan kota di Indonesia. Bahkan, rencana pembukaan tender gelombang kedua disebut akan mencakup sekitar 25 kota.
Ini menunjukkan bahwa proyek ini bukan bersifat lokal, melainkan bagian dari strategi nasional dalam pengelolaan sampah dan pengembangan energi terbarukan.
Namun, semakin besar skala proyek, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi—baik dari sisi teknis, finansial, maupun sosial.
Ada tiga faktor utama yang akan menentukan keberhasilan proyek ini:
1. Manajemen dan Transparansi
Tanpa tata kelola yang baik, proyek besar berisiko mengalami inefisiensi atau bahkan penyimpangan.
2. Perubahan Perilaku Masyarakat
Sistem waste-to-energy akan lebih efektif jika masyarakat mulai memilah sampah dari rumah.
3. Dukungan Pemerintah Daerah
Tanpa koordinasi yang kuat dengan daerah, implementasi di lapangan akan sulit berjalan.
Perwakilan Danantara menyebut bahwa perusahaan ini akan fokus menjalankan proyek pengolahan sampah menjadi energi sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik di Indonesia.
Pembentukan Denera menandai langkah baru pemerintah dalam menghadapi persoalan sampah dan energi secara bersamaan. Ini adalah pendekatan yang ambisius dan berpotensi memberikan dampak besar jika berhasil.
Namun, tantangan yang dihadapi juga tidak kecil. Dari sisi teknologi, biaya, hingga penerimaan masyarakat, semuanya akan menjadi faktor penentu.
Jika dikelola dengan baik, proyek ini bisa menjadi solusi jangka panjang yang signifikan bagi Indonesia. Sebaliknya, jika tidak, Denera berisiko menjadi proyek besar dengan hasil yang tidak optimal.
Ke depan, publik akan menunggu: apakah ini benar-benar solusi nyata, atau hanya ambisi besar yang sulit diwujudkan?
(WAS)
Tags
Nasional