Perjalanan distribusi barang dari Makassar ke daerah di Sulawesi Selatan masih bergantung pada jalan arteri yang padat dan tidak selalu mulus. Bagi pelaku usaha, kondisi ini bukan sekadar persoalan jarak, tetapi soal waktu dan biaya yang terus bertambah.
Di tengah kondisi tersebut, panjang jalan tol di Sulsel yang baru sekitar 25 kilometer menjadi sorotan. Angka ini bahkan tidak mencapai 1 persen dari total panjang jalan tol nasional.
Minimnya infrastruktur jalan tol dinilai berdampak langsung pada efisiensi logistik di wilayah ini.
Tanpa jalur cepat seperti tol, distribusi barang membutuhkan waktu lebih lama. Kemacetan, kondisi jalan, hingga hambatan di jalur distribusi menjadi faktor yang memengaruhi biaya operasional.
Bagi pelaku usaha, setiap keterlambatan berarti tambahan biaya:
- bahan bakar
- operasional kendaraan
- potensi kerusakan barang
Dalam jangka panjang, kondisi ini berdampak pada harga barang yang sampai ke konsumen.
Jika dibandingkan dengan wilayah barat Indonesia, khususnya Pulau Jawa, kesenjangan infrastruktur terlihat jelas.
Jaringan tol yang panjang di Jawa memungkinkan distribusi barang berjalan lebih cepat dan efisien. Sementara itu, di Sulsel, keterbatasan tol membuat pergerakan logistik masih bergantung pada jalan biasa.
Kondisi ini menciptakan ketimpangan wilayah dengan tol berkembang lebih cepat dengan wilayah tanpa tol tertinggal dalam efisiensi
Namun, persoalan ini tidak sesederhana kurangnya pembangunan.
Pembangunan tol sangat bergantung pada faktor ekonomi, terutama volume kendaraan yang melintas. Di wilayah dengan trafik yang belum tinggi, proyek tol dinilai belum cukup menarik bagi investor.
Selain itu, prioritas pembangunan nasional yang selama ini lebih fokus pada wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi juga memengaruhi distribusi proyek infrastruktur.
Sulawesi Selatan sebenarnya bukan wilayah kecil dalam peta ekonomi Indonesia. Sebagai pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia, wilayah ini memiliki peran strategis dalam distribusi barang dan jasa.
Namun di sisi lain:
- Jalan tol masih minim
- Sebagian jalan daerah masih rusak
- Konektivitas cepat belum optimal
Ini menciptakan paradoks bahwa pusat ekonomi ada, tapi infrastruktur belum mendukung sepenuhnya.
Di tengah dorongan pembangunan tol, muncul pertanyaan penting, apakah tol satu-satunya solusi?
Beberapa pendekatan lain juga dinilai penting, seperti:
- peningkatan kualitas jalan nasional dan provinsi
- penguatan jalur logistik alternatif
- integrasi dengan moda transportasi lain
Tanpa pendekatan yang menyeluruh, pembangunan tol saja belum tentu mampu menyelesaikan persoalan logistik.
Hingga kini, pengembangan jalan tol di Sulawesi Selatan masih terbatas pada beberapa ruas di kawasan Makassar dan sekitarnya.
Belum ada tambahan signifikan yang mampu mengubah peta konektivitas secara keseluruhan.
Panjang jalan tol yang hanya sekitar 25 kilometer di Sulawesi Selatan bukan sekadar angka, tetapi cerminan dari tantangan infrastruktur yang masih dihadapi wilayah ini.
Di baliknya, ada persoalan efisiensi, daya saing, dan ketimpangan pembangunan yang belum sepenuhnya terjawab.
Pertanyaannya kini bukan hanya berapa kilometer tol yang akan dibangun, tetapi apakah strategi pembangunan infrastruktur sudah benar-benar mampu menjawab kebutuhan ekonomi daerah.
Penulis : Putra