Visual Media Nusantara, Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komunikasi publik menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini terus diperluas di berbagai daerah Indonesia.
BGN menilai program berskala nasional seperti MBG membutuhkan dukungan dan partisipasi masyarakat luas, sehingga pemerintah harus mampu membangun pemahaman publik yang baik terkait tujuan, manfaat, hingga mekanisme pelaksanaannya.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, mengatakan komunikasi publik tidak bisa dipandang sekadar sebagai penyampaian informasi, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah.
“Program sebesar ini membutuhkan dukungan dan partisipasi masyarakat. Karena itu, pemerintah harus mampu membangun pemahaman publik yang baik mengenai tujuan, manfaat, dan mekanisme program,” ujar Khairul Hidayati dalam kuliah pakar yang digelar Universitas Pertahanan secara daring.
Menurutnya, strategi komunikasi MBG dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari komunikasi interpersonal melalui kader, tenaga kesehatan, guru, hingga tokoh masyarakat yang dinilai lebih dekat dengan kehidupan warga sehari-hari.
Selain itu, pemerintah juga mulai memperkuat pendekatan digital dengan memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube untuk menyebarkan edukasi gizi, podcast, serta informasi pelaksanaan MBG kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
“Media sosial juga menjadi instrumen penting untuk membangun engagement serta memperluas edukasi gizi kepada masyarakat,” kata Khairul.
BGN menyebut komunikasi publik yang cepat, terbuka, dan responsif menjadi bagian penting dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan program MBG di tengah tingginya perhatian masyarakat.
Pentingnya komunikasi publik dalam program MBG juga mendapat perhatian sejumlah lembaga pemerintah. Kementerian Sekretariat Negara sebelumnya menegaskan bahwa keberhasilan MBG membutuhkan komunikasi publik yang kuat, terintegrasi, dan tidak berjalan secara sektoral.
Di sisi lain, sejumlah penelitian dan evaluasi awal terhadap implementasi MBG menunjukkan masih adanya tantangan komunikasi, termasuk munculnya keraguan masyarakat akibat informasi yang simpang siur di media sosial terkait keamanan pangan dan pelaksanaan program.
Karena itu, BGN menilai pendekatan komunikasi yang konsisten dan berbasis edukasi menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan publik sekaligus meningkatkan efektivitas program gizi nasional dalam jangka panjang.
Dengan cakupan program yang terus berkembang, tantangan MBG bukan hanya pada distribusi makanan bergizi, tetapi juga memastikan informasi yang diterima masyarakat tetap akurat, transparan, dan dipercaya publik.
Penulis: Ariana