Visual Media Nusantara, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) mengantisipasi potensi gejolak pasar menjelang pengumuman hasil evaluasi indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (12/05/2026).
Pengumuman MSCI tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi arus dana asing serta pergerakan saham-saham unggulan di pasar modal Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, mengatakan otoritas pasar telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas perdagangan saham domestik.
“Kami bersama BEI terus memonitor perkembangan pasar dan menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas pasar modal,” ujar Inarno.
MSCI merupakan lembaga penyedia indeks global yang menjadi acuan investor institusi dunia dalam menentukan alokasi investasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Perubahan komposisi indeks MSCI dapat memicu arus masuk maupun keluarnya dana asing dalam jumlah besar, terutama pada saham-saham yang masuk atau keluar dari daftar indeks.
BEI menilai volatilitas pasar menjelang pengumuman MSCI merupakan hal yang lazim terjadi, terutama karena investor global biasanya melakukan penyesuaian portofolio sebelum hasil evaluasi resmi diumumkan.
Meski demikian, OJK menegaskan fundamental pasar modal Indonesia saat ini masih relatif kuat dan ditopang stabilitas ekonomi domestik yang dinilai tetap terjaga.
Pengamat pasar modal menilai perhatian investor terhadap pengumuman MSCI cukup tinggi karena perubahan indeks sering berdampak langsung pada likuiditas dan valuasi saham tertentu, khususnya saham berkapitalisasi besar.
Selain faktor MSCI, pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan suku bunga global, nilai tukar rupiah, serta dinamika geopolitik internasional yang turut memengaruhi sentimen perdagangan saham.
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar modal Indonesia tercatat beberapa kali mengalami lonjakan volatilitas saat mendekati pengumuman rebalancing indeks MSCI. Namun kondisi tersebut umumnya bersifat jangka pendek.
Investor diimbau tetap mencermati fundamental emiten dan tidak mengambil keputusan investasi secara emosional di tengah potensi fluktuasi pasar jangka pendek akibat sentimen global.
Penulis: Ariana