Visual Media Nusantara, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menanggapi keputusan lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings yang merevisi outlook atau prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB, yang masih masuk kategori investment grade atau layak investasi.
Pejabat sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pihaknya mencermati revisi outlook tersebut dan terus berkoordinasi dengan pemerintah serta otoritas terkait untuk menjaga stabilitas sektor keuangan nasional.
“OJK bersama pemerintah dan otoritas terkait terus memperkuat koordinasi kebijakan guna menjaga kondisi sektor keuangan tetap kondusif,” ujarnya.
Menurut Friderica, langkah tersebut penting agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga sehingga pertumbuhan ekonomi nasional dapat berlangsung secara stabil dan berkelanjutan.
Revisi outlook oleh Fitch mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap ketidakpastian kebijakan serta potensi tekanan terhadap prospek fiskal jangka menengah Indonesia.
Namun demikian, lembaga tersebut tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB karena sejumlah faktor fundamental ekonomi yang dinilai masih kuat.
Beberapa faktor tersebut antara lain stabilitas makroekonomi, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang relatif moderat, serta ketahanan sektor eksternal yang masih memadai.
Sejumlah otoritas ekonomi juga menilai perubahan outlook tersebut tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia.
Gubernur Perry Warjiyo menyatakan keputusan Fitch yang tetap mempertahankan rating BBB menunjukkan bahwa kepercayaan global terhadap ekonomi Indonesia masih kuat.
Ia menilai stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga dengan dukungan likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang relatif rendah.
Bank Indonesia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, dengan inflasi yang diperkirakan tetap terkendali dalam target.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut perubahan prospek ekonomi tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik, tetapi juga dinamika global.
Ia menilai konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global turut mempengaruhi penilaian lembaga pemeringkat terhadap prospek ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.
Pemerintah pun menyatakan akan menjadikan revisi outlook tersebut sebagai peringatan dini untuk memperkuat kebijakan fiskal dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Penulis: Redaksi Visual Media Nusantara
Editor: Tim Editor